Selasa, 27 Maret 2012

Satu Bahasa Lain Makna


Langit indah nan biru, matahari menyinari bumi meski kelabu, sesuatu turun dari langit dengan menitikkan air hujan yang membasahi diri. Saya dan teman-teman pada saat itu mengikuti kegiatan Jambore Pemuda Indonesia dan Bakti Pemuda Antar Provinsi yang di selenggarakan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Saya dan teman-teman tiba di bandara di saat awan mendung yang menurunkan titik demi titik air hujan yang membasahi diri.Kegiatan Jambore Pemuda Indonesia di selenggarakan di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang Jawa Timur. Dalam kegiatan JPI semua provinsi berkumpul di sana, dari sabang sampai marauke. Pergaulan dan perkenalan terjadi di saat kekosongan waktu.


Disini saya belajar untuk menghargai perbedaan negeri khatulistiwa. Bahasa, fisik, sosial budaya, pola fikir dan tingkah laku dari setiap individu yang majemuk merupakan suatu keragaman yang menjadi hal baru untuk dijadikan sebagai suatu pengalaman. Kegiatan Jambore Pemuda Indonesia berlangsung selama 6 hari. Perkenalan dan kekerabatan pada saat itu tidak lah berjalan dengan cepatnya seperti jarum jam yang berdetak menunjukkan waktu yang terus berlalu. Perkenalan yang terjadi hanya lah sebatas kulit luar dari seorang manusia.

Setelah kegiatan JPI berakhir, di laksanakan pula kegiatan Bakti Pemuda Antar Provinsi (BPAP) dimana setiap provinsi di bagi untuk mewakili provinsi nya ke provinsi lain. Pada saat itu saya perwakilan dari Kepri, dan Provinsi Kepri bekerjasama dengan Provinsi DKI.Jakarta, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Provinsi Maluku. Saya di pilih untuk ke Provinsi Maluku. Dari yang saya ketahui orang maluku memiliki kulit yang hitam dan penggunaan dialek yang kasar.

Setiba di Bandara Internasional Patimura Provinsi Maluku saya mengangkat tangan untuk melihat waktu yang begitu berbeda sehingga membuat saya tersentak dan tersandung rasa terkejut yang luar biasa. Dua jam perbedaan waktu yang memisahkan negeri khatulistiwa nan hijau dan biru akan laut dan tumbuhan antara barat dan timur negeri ini menambah kekayaan dan keragaman perbedaan.


Disini saya akan belajar untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri di negeri orang.Sepanjang perjalanan saya berspekulasi bahwa setelah sampai di bandara maka akan menjadi akhir dari pertualangan menuju tujuan, ternyata spekulasi saya salah. Setelah di Bandara Patimura saya masih harus terus berjalan menuju salah satu kota di Provinsi Maluku ini, yakni Kota Tual. Kota Tual merupakan akhir dari pertualangan saya bersama rombongan. Saya bersama rombongan dari provinsi lain akan berlabuh selama lebih kurang 2 bulan lamanya di suatu desa kecil bernama Desa Leebetawi Kecamatan Dullah Utara.

Tiba di sana saya melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan menuruni tangga Bus satu per satu dengan suasana hati yang sulit untuk di gambarkan. Suatu fenomena yang menurut saya sangat luar biasa, disambut oleh masyarakat yang ramah dengan suasana alam yang sangat bersahabat dan tanpa cahaya yang menyinari. Tidak cukup sampai disini, untuk seterusnya saya bersama teman baru saya asal Provinsi DKI Jakarta di persilahkan duduk diatas kursi bagaikan putri raja yang di jaga oleh pengawal.

Saya melihat raut wajah penduduk yang penuh tanda tanya dan decak kagum melihat kedatangan kami yang merupakan orang asing bagi mereka. Rasa takut yang saya rasakan saat pertama kali melihat tatapan mereka yang menurut saya tidak biasa yang padahal sebenarnya suatu yang biasa bagi mereka. Ini merupakan rasa yang wajar dan manusiawi sebagai bentuk penyesuaian pengenalan sesuatu yang baru.

Sepertinya sang waktu tak dapat di hentikan, satu hari tlah berlalu. Penyesuaian diri terhadap lingkungan baru ini sepertinya tlah saya rasakan.

Kegiatan BPAP di lakukan dengan tujuan mengenalkan kekayaan budaya nusantara di bidang Seni tari, Seni Suara, Makanan Tradisional, maupun Kerajinan Tradisional setempat.


Matahari mulai beranjak ke peraduannya, di saat kegiatan telah selesai. Mengikuti jejak matahari, saya beranjak ke rumah penempatan yang telah di sediakan oleh Provinsi Maluku. Tidak hanya rumah, namun kami juga mendapat kesempatan untuk memiliki orang tua angkat atau bunda piara.
Untuk pertama kalinya saya mendengar bunda piara berbicara langsung kepada saya, "Yufi, makan sudah," Kata bunda piara. Saya pun menjawab, "Yufi belum makan bunda". Untuk ke dua kalinya bunda piara berkata, "Bunda bukan menanyakan Yufi sudah makan atau belum, tetapi Yufi pergi makan sana." Ternyata kalimat itu merupakan kalimat suruhan bukan kalimat tanya. Dengan polosnya saya berkata kepada bunda piara, "Oooo.... Yufi kira bunda bertanya kepada Yufi. hehehehe". Kata ku sambil tertawa dengan penuh keheranan pada penggunaan bahasa orang sana.

Kata yang di ucapkan oleh bunda piara itu membuat saya menyimpulkan bahwa setiap daerah, setiap wilayah di Indonesia mempunyai Bahasa Indonesia yang sama namun mengandung arti dan makna yang berbeda pula.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar